spjnews.id I Garut - Puluhan tokoh perwakilan dari 12 kampung adat se kabupaten Garut, dalam prosesi kawin cai hari jadi Kabupaten Garut ke 213. Dengan khidmat para tokoh adat membawa air dalam wadah yang terbuat dari bambu, secara bergiliran mereka menyerahkan air cikahuripan (Air Kehidupan) yang pertama diserahkan kepada Bupati Garut Abdusy Syakur Amin dilanjut kepada ketua DPRD Aris Munandar dan para pejabat lainnya. Kamis (12/2/2026) Pagi.
Waktu terus berputar, hingga sejurus kemudian satu per satu cai kahuripan, yang berada dalam cawan bambu itu, ditumpahkan ke dalam gentong kuningan.
Konon percampuran itu merupakan tanda kasih bagi alam, atas anugerah beragam sumber mata air Cikahuripan yang berada di Garut. Tak sedikit dari penonton yang telah menunggu sejak lama pertunjukan itu, kemudian berebut cikahuripan, meskipun hanya sekedar membasuh muka sebagai tanda ngalap berkah (mengharap keberkahan) saja, air itu kan sumber kehidupan,” ungkap Asep Sopala salah seorang tokoh adat dari Situs Keramat Makam Godog Karangpawitan.

Alasan pria paru baya itu tidak berlebih, pengunjung yang berasal dari Karangpawitan itu, mengaku kawin cai merupakan budaya lawas yang selalu dilakukan para leluhur mereka, untuk mendapatkan keberkahan hidup.
Menurut Asep, proses itu tidak hanya sekedar melestarikan budaya, namun ada nilai budaya yang diwariskan kepada generasi mendatang. “ Memiliki makna gotong royong, kebersamaan yang tidak luntur, ujar dia.
“ Intinya kawin cai adalah simbol saling harga menghargai dan saling memajukan sesama umat manusia, meskipun beda adat dan kebudayaan, tetapi tetap sama menuju lemah cai gemah ripah loh jinawi ,” tandasnya.
Terhimpun spjnews, dalam gelaran prosesi kawin cai, ada 12 komunitas penggiat budaya yang terlibat, mereka berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Garut, dengan latar belakang budaya yang unik.
12 Komunitas itu diantaranya, komunitas budaya makam Cipancar, situs makam Godog, makam Cinunuk, Kampung Pulo di kecamatan Leles, situs Ciburuy dan Ciela, kedua berada di kecamatan Bayongbong, Kampung adat Dangiang, Banjarwangi.
Kemudian kampung adat Cigedug, Limbangan Wangi yang berasal dari Limbangan, Mulakedeu dari Kecamatan Sucinaraja, hingga kampung Dukuh yang berasal dari Kecematan Cikelet Garut Selatan.
Puncak proses kawin cai dipusatkan di salah satu sumur ‘Ki Garut’ yang berada di kawasan SMPN 1 Garut. (ajangpendi)