Logo
Jawa Timur

Viral! Buceng Lanang Rp 35 Juta, Buceng Wadon Rp 25 Juta, SatuTumpeng Rp 1,5 Juta  Harga Fantastis yang Menyulut Polemik

Viral! Buceng Lanang Rp 35 Juta, Buceng Wadon Rp 25 Juta, SatuTumpeng Rp 1,5 Juta  Harga Fantastis yang Menyulut Polemik

spjnews.id | TULUNGAGUNG, —  Hari jadi Kabupaten Tulungagung ke-820, yang di gelar pada 18 November 2025 lalu yang semestinya menjadi momentum sakral penuh syukur, justru berubah menjadi panggung polemik. Bagaimana tidak, harga Buceng Lanang yang mencapai Rp 35 juta, Buceng Wadon Rp 25 juta, dan satu tumpeng Rp 1,5 juta membuat masyarakat terperangah. Angka-angka fantastis ini seolah menampar nalar publik, menimbulkan pertanyaan: apakah pesta rakyat telah bergeser menjadi pesta anggaran?

Dalam tradisi Jawa, tumpeng bukan sekadar hidangan. Ia adalah simbol doa, syukur, dan kebersamaan. Namun, ketika simbol itu dibungkus dengan biaya yang melangit, makna spiritualnya terancam terkubur oleh aroma pragmatisme birokrasi. Bukankah agama dan budaya harus senantiasa berpihak pada kesederhanaan, bukan kemewahan yang menjauhkan rakyat dari substansi nilai. Maka, harga tumpeng yang fantastis ini bukan sekadar angka, melainkan cermin dari mentalitas yang perlu dikritisi.

Makrus, Kabid Kemasyarakatan, saat dikonfirmasi pada Rabu 26 November 2025, membenarkan anggaran tersebut. Ia menjelaskan bahwa biaya itu sudah termasuk persiapan logistik: mobil pengangkut, hiasan, 15 orang tenaga, hingga kostum seragam untuk mengangkat satu tumpeng. Penjelasan ini memang memberi alasan teknis, namun tetap menyisakan ironi: apakah pesta rakyat harus dibayar dengan harga yang membuat rakyat sendiri mengernyit?

Analisis Tajam
- Simbol yang bergeser: Tumpeng sebagai lambang syukur kini dipersepsikan sebagai komoditas mahal.  
- Rakyat sebagai penonton: Alih-alih merasakan kebersamaan, masyarakat justru menjadi pengamat yang mempertanyakan relevansi biaya.  
- Ironi anggaran: Pesta rakyat seharusnya membahagiakan rakyat, bukan membebani pikiran mereka dengan angka-angka yang tak masuk akal.  


Polemik ini bukan sekadar tentang harga tumpeng, melainkan tentang nilai. Apakah pesta rakyat masih berpihak pada rakyat, atau sekadar menjadi panggung simbolik yang kehilangan ruh kesederhanaan? Tulungagung patut bercermin: jangan sampai tradisi luhur berubah menjadi sekadar tontonan mahal yang mengaburkan makna spiritual dan kebersamaan.  
( Mualimin/ SPJ News.id )