jombang

Gus Fahmi: Muktamar NU Harus Steril Politik Uang

Gus Fahmi: Muktamar NU Harus Steril Politik Uang
Ketua PCNU Jombang KH Fahmi Amrullah ( Gus Fahmi) saat temui awak media di kediamannya

JOMBANG | SPJNews.id – Menjelang perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dinamika internal organisasi kian menghangat. Sejumlah aspirasi dari akar rumput mulai mencuat, terutama terkait pentingnya menjaga integritas dalam proses pemilihan kepemimpinan.

Ketua PCNU Jombang, KH Fahmi Amrullah Hadzik atau yang akrab disapa Gus Fahmi, menegaskan bahwa forum tertinggi NU harus steril dari praktik politik uang (money politics) yang berpotensi mencederai marwah organisasi.

“Muktamar mendatang harus benar-benar menghasilkan pengurus yang bersih. Proses pemilihan harus bebas dari suap-menyuap,” tegasnya saat dikonfirmasi, Senin (6/4/2026).

Menurutnya, Muktamar merupakan momentum krusial untuk melahirkan kepemimpinan yang berintegritas dan berwibawa, sehingga mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

Selain itu, Gus Fahmi juga mendorong adanya penyegaran dalam kriteria calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia menilai, kepemimpinan NU tidak harus selalu berasal dari kalangan kiai atau pesantren.

Meski sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) telah menetapkan kriteria tertentu, ia mengusulkan agar ruang pencalonan diperluas bagi figur profesional maupun pengusaha.

Gagasan tersebut, kata dia, memiliki landasan historis kuat. Ia mencontohkan sosok Haji Hasan Gipo, Ketua Umum pertama PBNU yang berasal dari kalangan saudagar.

“Sejak awal NU sudah inklusif. Tidak harus Gus atau Kiai. Jika ada pengusaha yang siap membiayai organisasi, itu akan menjadi nilai tambah besar,” ujarnya.

Gus Fahmi memandang keterlibatan figur dengan kekuatan finansial dapat mendorong kemandirian ekonomi organisasi. Dengan demikian, NU tidak lagi bergantung pada bantuan pihak luar yang berpotensi memengaruhi independensi.

Ia juga menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam pengelolaan organisasi, dari yang sebelumnya bergantung pada proposal bantuan menjadi lebih mandiri dan berdaya.

“Dengan kekuatan finansial yang kuat, NU akan lebih berdaulat dalam menentukan arah kebijakan tanpa intervensi pihak luar,” imbuhnya.

Hingga saat ini, sedikitnya 13 nama telah mencuat sebagai kandidat potensial menjelang Muktamar ke-35. Bursa calon ini diharapkan menjadi ruang adu gagasan dan visi demi membawa NU lebih adaptif dan progresif ke depan.

Gus Fahmi berharap, pemimpin NU ke depan memiliki kombinasi kekuatan modal sosial dan finansial yang kokoh, sebagai jaminan bagi terjaganya independensi organisasi serta peningkatan kesejahteraan umat. (Ratno)