Warga Desa Ngrejo Kecamatan Tanggunggunung Geruduk PT Hutama Karya GALA
spjnews.id | Tulungagung - Ratusan warga Desa Ngrejo meluapkan geram yang tak terbendung atas dampak negatif pembangunan Jalan Lintas Selatan (JLS). Proyek nasional yang semestinya menjadi urat nadi ekonomi, justru menjelma menjadi luka sosial-ekologis yang menggerogoti kehidupan masyarakat.
(O2 Desember 2025)

Ketakutan Musim Hujan
Musim penghujan kini bukan lagi berkah, melainkan ancaman. Lumpur bercampur bongkahan batu dari pengerukan JLS mengalir deras ke perkebunan dan pemukiman. Infrastruktur desa tertutup longsoran tanah, bahkan sumber mata air utama yang selama ini menopang kebutuhan minum dan rumah tangga warga rusak tertimbun. Air, simbol kehidupan, kini berubah menjadi lumpur yang menyesakkan.
Pemerintah Desa Tak Berdaya
Berulang kali pemerintah Desa Ngrejo berkoordinasi dengan pengelola proyek, PT Hutama Karya GALA, namun jawaban yang diterima hanyalah kebisuan. Keresahan warga sempat diangkat ke ruang publik melalui media daring, namun tetap tak ada tindakan tegas. Diam yang panjang itu akhirnya melahirkan aksi turun jalan pada 2 Desember, dengan tema yang menggema: “212 Loro siji, loro kabeh” — satu sakit, semua sakit.

Petisi Rakyat
Di depan kantor PT HK GALA, suara rakyat bergema lewat orasi damai dan sepanduk tuntutan. Dana, ketua Tulungagung 212, membacakan petisi yang menuntut tanggung jawab penuh atas longsor dari tebing JLS. Kerusakan bak penampungan air, jalur Hippam Dusun Kuning, hingga jalan sirip yang merugikan warga, semua dicatat dengan tegas.
Isi petisi jelas: bila tuntutan tak dipenuhi, warga akan memblokade seluruh aktivitas PT HK GALA. Mereka bertekad tidak meninggalkan kantor perusahaan hingga fakta integritas ditandatangani. Dan bila dalam tujuh hari tak ada realisasi, massa akan bergerak lebih besar, menutup seluruh kegiatan JLS.
Hasil Perjuangan
Akhirnya, surat petisi ditandatangani pihak PT HK GALA. Aksi damai yang lahir dari kegelisahan mendalam membuahkan hasil positif. Desa Ngrejo membuktikan bahwa suara rakyat, bila bersatu, mampu menembus tembok kebisuan.
Tajamnya pesan ini mengingatkan kita pada spirit pembangunan tanpa keadilan hanyalah ilusi. Jalan yang dibangun untuk kemajuan, bila menyingkirkan rakyat, akan berubah menjadi jalan penderitaan. ( Mualimin/ SPJ News.id )
